Aku karyawan kantoran biasa, umur 21 tahun, kerja di perusahaan swasta di tengah kota. Hidup aku biasa saja, tinggal di rumah kecil di komplek perumahan biasa pinggiran Jakarta. Rumah ini sudah aku tempati sendiri sejak orang tua aku meninggal beberapa tahun lalu. Semua biaya hidup—listrik, air, makan sehari-hari—aku yang tanggung sendiri dari gaji bulanan yang pas-pasan.
Beberapa bulan lalu, abang aku, Jamil, umur 25 tahun, sama istrinya, Mbak Rina, umur 30 tahun, numpang tinggal di rumah aku. Jamil lagi terpuruk banget, baru kena PHK dan susah banget nyari kerja baru. Dia sering nggak pulang, alasan sih lagi cari kerja di luar kota atau ikut wawancara. Mbak Rina cuma di rumah, bantu-bantu beres-beres, masak, cuci baju. Jadi otomatis semua biaya hidup rumah tangga ini aku yang tanggung. Aku nggak keberatan, soalnya dia abang aku, tapi tetap saja berat.
Awalnya aku sama Mbak Rina canggung banget. Kami belum pernah ketemu sebelumnya, karena pernikahan mereka di luar kota dan aku nggak sempat datang. Mbak Rina kelihatan lebih dewasa dari kami berdua, baik dari usia maupun sikapnya. Dia selalu rapi meskipun cuma di rumah, pakai daster sederhana, rambut panjang diikat, senyumnya sopan tapi jarang banget diajak ngobrol panjang. Percakapan kami cuma seperlunya: “Mau makan apa malam ini?” atau “Baju sudah aku cuci.” Aku nggak berani ngeliatin Mbak Rina lama-lama, dia juga begitu. Kayak ada tembok tak kasat mata yang bikin kami jaga jarak.
Malam itu, seperti biasa, Jamil lagi nggak pulang. Jam sudah nunjukkin pukul sebelas malam pas aku pulang dari kantor setelah lembur yang bikin capek banget. Rumah sepi, cuma lampu ruang tamu yang nyala redup. Aku taruh tas kerja di meja depan, mau langsung ke kamar istirahat. Tapi mata aku langsung tertuju ke sofa ruang tamu.
Di situ Mbak Rina ketiduran miring, daster katun tipisnya agak tersingkap, nunjukin sebagian paha mulusnya. Cahaya lampu temaram nyinari kulit putih halusnya, napasnya pelan dan tenang. Aku berdiri di situ beberapa detik, jantung aku mulai berdegup nggak karuan. Canggung yang selama ini kami jaga kayak luntur begitu saja dalam keheningan malam.
Dengan langkah pelan, aku mendekat. Tangan aku agak gemetar pas nyentuh paha Mbak Rina yang terbuka. Kulitnya hangat dan lembut banget di bawah jari aku, seperti sutra yang baru dijemur. Aku rasain otot pahanya yang kencang tapi halus, tanpa sedikit pun bulu yang mengganggu. Perlahan aku geser tangan ke atas, menyusuri garis paha bagian dalam yang semakin hangat mendekati pusat tubuhnya. Mbak Rina tetap diam, mata terpejam, tapi napasnya mulai sedikit lebih berat.
Aku angkat pelan ujung daster itu lebih tinggi, sampai ke pinggang. Kini terpampang jelas celana dalam tipis berwarna krem yang membungkus rapat area intimnya. Aku nunduk, bibir aku menyentuh kulit paha itu dengan ciuman lembut pertama. Aku ciumi pelan, dari tengah paha naik ke atas, lidah aku sesekali menjilat ringan meninggalkan jejak basah yang mengkilap di bawah cahaya lampu. Setiap ciuman aku buat lebih dalam, menghisap pelan kulitnya hingga meninggalkan bekas merah samar. Mbak Rina menggeliat sangat halus, paha kirinya terbuka lebih lebar tanpa kata, seolah mengundang aku untuk melanjutkan.
Desahan pelan keluar dari bibirnya—suara rendah, hampir seperti erangan tertahan. Aku tahu pasti dia nggak bener-bener tidur. Tubuhnya merespons: pinggulnya sedikit terangkat, otot perutnya menegang pelan. Aku lanjutkan menikmati tubuhnya dengan lebih berani. Tangan aku merayap ke atas, meraba perut rata yang halus, lalu naik ke payudara kiri yang masih tertutup daster. Aku remas pelan dari luar kain, merasakan putingnya yang sudah mengeras menekan telapak tangan aku. Mbak Rina mendesah lagi, kali ini lebih panjang, napasnya mulai tersengal.
Dengan hati-hati aku tarik daster sepenuhnya ke atas sampai lehernya, memperlihatkan tubuh telanjangnya yang sempurna. Payudara Mbak Rina besar dan kencang, puting cokelat muda yang sudah tegang sempurna. Perutnya rata dengan garis pinggul yang lebar dan menggoda. Aku ciumi payudaranya satu per satu, menghisap puting kanan dengan lembut sambil lidah aku putar-putar di sekelilingnya. Tangan aku yang lain turun ke celana dalamnya, meraba kain yang sudah basah di bagian tengah. Aku geser kain itu ke samping, jari aku menyentuh bibir vaginanya yang hangat dan licin. Mbak Rina menggigit bibir bawahnya, pinggulnya bergerak pelan mengikuti gerakan jari aku yang mengusap klitorisnya dengan lingkaran kecil.
Aku nggak tahan lagi. Aku buka celana dalamnya pelan-pelan sampai lepas total, lalu aku berdiri sebentar untuk melepas celana pendek dan boxer aku sendiri. Batang aku sudah keras sekali, berdenyut-denyut. Aku kembali berlutut di depan sofa, angkat sedikit paha Mbak Rina yang terbuka lebar, lalu aku arahkan ujung batang ke mulut vaginanya yang sudah sangat basah. Perlahan aku dorong masuk, senti demi senti, merasakan dinding dalamnya yang panas dan sempit memeluk batang aku dengan sempurna. Mbak Rina mengeluarkan desahan panjang, tubuhnya melengkung sedikit, tapi matanya tetap terpejam rapat.
Aku mulai gerakkan pinggul dengan irama lambat dan dalam. Setiap dorongan aku buat penuh, sampai pangkal, lalu tarik keluar hampir sepenuhnya sebelum masuk lagi. Bunyi basah kecil terdengar tiap kali aku hentak. Payudara Mbak Rina bergoyang mengikuti gerakan, aku remas keduanya sambil terus menggenjot dengan ritme yang semakin cepat. Desahannya kini lebih sering dan lebih keras, meski masih tertahan. Tubuhnya mengejang, kakinya melingkar di pinggang aku tanpa sadar, seolah meminta lebih dalam.
Aku rasain kenikmatan yang luar biasa—tubuh Mbak Rina yang matang, hangat, dan basah sepenuhnya milik aku malam itu. Aku cium lehernya, hisap bahunya, sambil terus menggerakkan pinggul tanpa henti. Akhirnya, setelah beberapa menit yang terasa lama sekali, aku rasain klimaks Mbak Rina datang. Vaginasnya berdenyut kuat di sekeliling batang aku, tubuhnya menggigil hebat, desahannya pecah jadi erangan panjang. Aku ikut klimaks tak lama kemudian, menyemburkan cairan panas ke dalamnya dalam-dalam sambil menekan pinggul aku kuat-kuat.
Malam itu aku ngeseks sama Mbak Rina dalam keadaan dia pura-pura tidur—mungkin karena dia juga ngerasa hal yang sama, ketertarikan yang selama ini disembunyiin di balik kecanggungan, dan nolak terbuka terlalu berat buat dihadapi.
Kami selesai malam itu dalam keheningan penuh gairah, tanpa sepatah kata pun keluar. Setelahnya aku rapiin pakaiannya pelan-pelan, selimutin tubuhnya, dan ninggalin dia di sofa seolah nggak pernah terjadi apa-apa. Aku jalan ke kamar dengan pikiran berputar-putar, nanya-nanya dalam hati apa yang bakal terjadi besok pagi. Apa Mbak Rina bakal tetap pura-pura nggak tahu? Atau ini cuma awal dari sesuatu yang lebih dalam?
Malam itu berakhir, tapi cerita kita baru mulai.
Pagi itu aku bangun dengan perasaan campur aduk. Jantung aku berdegup kencang sejak membuka mata. Semalam kejadian di sofa masih terbayang jelas di kepala—tubuh Mbak Rina yang hangat, desahannya yang tertahan, dan cara kami menyatu tanpa sepatah kata pun. Aku takut sekali Mbak Rina marah besar, atau bahkan langsung cerita ke Jamil. Aku bayangin dia bakal menghindar, wajahnya dingin, atau paling tidak pura-pura lupa. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Aku keluar dari kamar dengan langkah ragu, masih memakai kaos dan celana pendek semalam. Bau kopi sudah tercium dari dapur. Mbak Rina ada di sana, berdiri di depan kompor sambil mengaduk sesuatu. Dia terlihat berbeda. Lebih ceria. Rambutnya yang biasanya hanya diikat sembarangan sekarang disisir rapi, ada sedikit bedak tipis di wajahnya yang membuat kulitnya kelihatan lebih cerah dan halus. Baru kali ini aku melihat Mbak Rina berdandan, meski hanya bedak doang. Cantik banget. Manis. Senyumnya yang biasanya sopan dan jarang, pagi ini melebar lebar saat dia menoleh ke arah aku.
“Pagi, ndi,” sapanya lembut, suaranya penuh kehangatan yang belum pernah aku dengar sebelumnya. “Kopi sudah siap. Mau sarapan apa? Ada nasi goreng sisa semalam, aku panasin lagi ya.”