Home Top Ad

Kisah Nyataku Dengan Mbak Rina Istri Abangku

Aku cuma bisa mengangguk, masih terpaku. Mbak Rina lebih banyak senyum hari ini. Dia bukan lagi wanita canggung yang cuma bicara seperlunya. Dia nawarin kopi dengan tangan yang halus, lalu nawarin sarapan dengan penuh perhatian. Saat aku mengambil gelas kopi dari tangannya, jari kami bersentuhan. Hanya sebentar, tapi rasanya seperti ada gelombang listrik yang langsung menyengat seluruh tubuh aku. Hangat, tajam, dan bikin bulu kuduk merinding. Mbak Rina tidak menarik tangannya. Malah dia tersipu malu, pipinya merona tipis, dan dia menahan jari aku sebentar. Hanya sedetik, tapi cukup lama buat aku merasakan kelembutan kulitnya yang masih hangat dari tidur. Akhirnya aku menerima gelas itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Nanti malam mau dimasakin apa, ndi?” tanyanya sambil duduk di depan aku di meja makan. Matanya menatap langsung, tidak lagi menghindar seperti biasa.

Aku jawab pelan, “Makanan yang paling Mbak suka aja. Apa pun, asal Mbak yang masak.”

Mbak Rina tertawa kecil, suaranya manis. Aku keluarkan dompet, ambil lima lembar uang seratus ribu, total lima ratus ribu, lalu kasih ke tangannya. “Ini buat pegangan Mbak aja. Kan Jamil belum dapat kerja lagi. Buat belanja atau apa gitu.”

Mbak Rina kaget. Matanya membelalak, tangannya ragu-ragu menerima uang itu. “Banyak banget… buat apa, ndi?”

“Buat Mbak aja,” jawab aku sambil tersenyum. “Biar Mbak nggak repot mikirin uang dulu.”

Wajahnya langsung berubah. Senang banget. Refleks dia pegang tangan aku dengan kedua tangannya, jari-jarinya yang lentik membungkus punggung tangan aku. “Makasih ya, ndi… kamu baik banget.”

Refleks juga, aku mengelus jari-jarinya yang memegang tangan aku. Gerakan pelan, lembut, mengusap punggung jarinya yang halus. Entah berapa lama kami seperti itu—hanya saling memegang tangan di meja makan, mata bertemu mata, senyum kecil yang sama-sama malu-malu. Udara di dapur terasa lebih hangat, lebih tegang, tapi enak. Sampai tiba-tiba suara kucing tetangga mengeong keras dari luar jendela, kami berdua langsung kaget dan tertawa bersama. Tawa yang ringan, yang pertama kali kami bagi sebagai “kami”.

“Kopinya nanti dingin lho,” kata Mbak Rina sambil melepaskan tangan aku dengan pelan, pipinya masih merona. Dia merapikan daster yang sedikit melorot di bahunya, memperlihatkan sedikit kulit leher yang putih. Gerakannya lambat, sengaja atau tidak, tapi cukup buat aku ingat lagi betapa indahnya tubuh yang semalam aku nikmati.

Aku minum kopi sambil diam-diam memperhatikan Mbak Rina yang kini bergerak di dapur dengan langkah lebih ringan. Senyumnya tak hilang-hilang. Ada sesuatu yang berubah di antara kami. Sesuatu yang semalam dimulai dalam keheningan pura-pura tidur, kini mulai terbuka pelan di pagi yang cerah ini. Aku nggak tahu apa yang bakal terjadi nanti malam, tapi satu hal yang pasti: kecanggungan yang dulu ada sudah mulai luntur, diganti oleh tarikan yang semakin kuat.

Malam pertama sudah lewat. Pagi ini baru membuka babak baru. Dan aku merasa cerita ini masih jauh dari selesai.

Malam harinya aku pulang dari kantor dengan pikiran yang sudah tidak tenang. Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya membayangkan satu hal: Mbak Rina ketiduran lagi di sofa ruang tamu, seperti malam kemarin. Aku ingin sekali mengulangi keindahan itu, tapi kali ini dengan perasaan yang lebih berani. Begitu masuk rumah, aku langsung bolak-balik ke ruang tamu. Sofa kosong. Aku mondar-mandir, pura-pura ambil air, pura-pura cari remote, tapi sebenarnya hanya mencari sosok Mbak Rina.

Mbak Rina yang sedang duduk di ruang keluarga memperhatikan aku. Dia pasti paham. Senyum kecilnya muncul lagi, senyum yang sudah mulai aku kenali sejak pagi tadi. Tanpa banyak kata, dia bangkit pelan, berjalan ke ruang tamu, menghidupkan televisi dengan volume kecil, lalu rebahan di sofa seperti biasa. Dasternya yang tipis sedikit naik, memperlihatkan paha mulusnya. Dia berbaring miring, mata terpejam, seolah benar-benar ingin tidur sambil nonton. Aku duduk di kursi seberang, pura-pura melihat layar, tapi sebenarnya aku menghitung menit.

Tiga puluh menit berlalu. Napas Mbak Rina sudah teratur, tubuhnya rileks. Dia tidur — atau pura-pura tidur. Kali ini aku tak peduli lagi. Aku bangkit perlahan, menghampiri sofa. Aku nyalakan lampu ruang tamu sampai terang benderang. Aku ingin melihat setiap detail keindahan tubuhnya dalam cahaya yang jelas, bukan lagi temaram seperti kemarin. Dari saku celana, aku keluarkan ponsel, kusetel ke mode rekam video, lalu letakkan di meja kecil tepat menghadap sofa. Aku ingin mendokumentasikan hal terindah dalam hidupku malam ini.

Aku berlutut di depan sofa. Kali ini aku mulai dengan menciumi bibirnya. Bibir Mbak Rina yang indah, merah alami, lembut seperti permen. Aku kecup pelan dulu, lalu lebih dalam, lidah aku menyelinap masuk menyentuh lidahnya. Mbak Rina diam tak bergerak, tapi napasnya mengindikasikan kalau dia hanya pura-pura tidur — napasnya cepat, hangat, dan sesekali tersekat. Aku terus menciumnya lama, menghisap bibir bawahnya, mengecap rasa manis yang membuat aku semakin bergairah.

Tangan aku turun ke daster, membuka kancing satu per satu sampai terbuka lebar. Tubuh Mbak Rina yang matang terpampang sempurna di bawah lampu terang. Payudaranya yang besar dan kencang, puting cokelat muda yang sudah mengeras. Perut rata, pinggul lebar, dan paha yang terbuka sedikit. Aku ciumi lehernya, turun ke belahan dada, lalu menghisap puting kanannya dengan rakus. Lidah aku putar-putar, sesekali gigit pelan. Mbak Rina mulai mendesah — desahan yang tidak tertahan lagi, suara lembut tapi jelas, “Ahh…”. Pinggulnya bergerak pelan mengikuti.

Aku lepas celana pendek dan boxer aku. Batang aku sudah keras sekali, berdenyut. Aku angkat satu kaki Mbak Rina ke bahu aku, lalu arahkan ujung batang ke vaginanya yang sudah basah. Aku dorong masuk perlahan, senti demi senti, sampai pangkal. Mbak Rina menggigit bibir, desahannya pecah, “Uhh… ndi…”. Aku mulai menggenjot dengan irama sedang, keluar-masuk dalam-dalam. Bunyi basah terdengar jelas di ruang tamu yang sunyi. Payudaranya bergoyang setiap hentakan. Aku remas keduanya, jempol aku putar putingnya. Desahan kami kini keluar tanpa tertahan — desahanku kasar, desahannya manja dan penuh nafsu.

Aku percepat gerakan. Vaginas Mbak Rina semakin licin dan panas, dindingnya memeluk batang aku erat. Aku rasain klimaks pertama datang cepat. Aku tekan pinggul kuat-kuat, muncrat dalam-dalam sambil mendesah keras, “Ahh… Mbak…”. Cairan panas aku keluarkan banyak sekali. Mbak Rina tubuhnya mengejang, senyum kecil muncul di bibir indahnya, rintihan pelan keluar, “Mmmh…”.

Aku tidak berhenti. Masih keras, aku tarik keluar sebentar, balik posisi Mbak Rina jadi telentang, lalu aku naik ke atas sofa. Kali ini aku genjot lagi dengan posisi misionaris. Lebih dalam, lebih kuat. Payudaranya aku hisap bergantian, tangan aku usap klitorisnya sambil terus hentak. Desahan Mbak Rina semakin keras, “Ahh… lagi… ndi…”. Aku rasain klimaks kedua datang. Aku tahan sebentar, lalu muncrat lagi, lebih banyak, membanjiri dalam vaginasnya. Tubuh Mbak Rina menggigil hebat, senyum kecilnya muncul lagi, rintihan manja terdengar, “Hhh… enak…”.

Masih belum puas, aku angkat pinggul Mbak Rina tinggi-tinggi, posisi doggy di sofa. Aku masukin dari belakang, hentakkan keras dan cepat. Tangan aku pegang pinggulnya yang lebar, batang aku keluar-masuk dengan suara basah yang keras. Mbak Rina desah tanpa malu lagi, “Ahh… dalam… ndi… ahh!”. Aku genjot tanpa ampun, sampai klimaks ketiga datang. Aku muncrat untuk ketiga kalinya, menyemburkan sisa cairan panas yang masih banyak ke dalam tubuhnya sambil mendesah panjang, “Mbak Rina… ahhh!”.

Mbak Rina tetap dalam diam “tidurnya”. Matanya terpejam rapat, tapi sesekali senyum kecil terlihat di bibir indahnya, dan rintihan pelan keluar setiap kali aku muncrat. Tubuhnya basah keringat, vaginasnya penuh cairan aku yang menetes pelan ke sofa. Aku matikan rekaman di hp, simpan dengan hati-hati. Aku rapiin daster Mbak Rina pelan-pelan, selimuti tubuhnya, lalu kecup keningnya sekali lagi.

Malam itu aku meninggalkan ruang tamu dengan tubuh lelah tapi hati penuh. Aku tahu Mbak Rina tidak benar-benar tidur. Aku tahu dia menikmati setiap detiknya. Dan aku tahu, cerita ini masih akan berlanjut semakin panas.


Bersambung Ke Bagian 3.. =>

Sinopsis Bagian Ke 3 - 4

Pagi setelah malam rekaman itu, aku baru saja bangun dan hendak ke dapur ketika tiba-tiba tangan Mbak Rina menjewer telinga aku dari belakang. Dia memeluk pinggang aku erat sambil berbisik manja di telinga, “Semalam enak ya? Kamu nakal banget, ndi… pinter ya kamu bikin aku enak,” Aku langsung kaget, jantung berdegup kencang, tapi rasa senang dan lega membanjiri dada. Akhirnya Mbak Rina terbuka sepenuhnya — tidak lagi pura-pura tidur, tidak lagi menolak saat sadar. Dia tersenyum nakal, matanya penuh gairah yang selama ini disembunyikan. Belum sempet aku ngomong, mbak Rina langsung mencium bibir aku, "Kamu bikin aku ketagihan ndi.."

Tanpa menunggu jawaban, Mbak Rina menarik aku duduk di kursi makan. “Pagi ini aku yang nikmatin kamu,” katanya sambil langsung duduk di pangkuan aku. Dasternya melorot perlahan, memperlihatkan bahwa di bawahnya sudah tidak ada apa-apa. Dia menciumi bibir aku dengan ganas, lidahnya menari liar di dalam mulut aku.

Tubuhnya yang matang menempel rapat, payudaranya yang besar menekan dada aku. Pagi itu aku benar-benar dipuaskan oleh Mbak Rina. Ternyata dia sangat liar dan lihai dalam memuaskan pasangan — gerakannya cepat, terampil, dan penuh inisiatif. Aku dibuat kewalahan total. Desahannya tidak bisa ditahan lagi, keluar begitu saja keras dan panjang, tanpa peduli apakah tetangga bisa mendengar dari balik dinding tipis rumah komplek.

Sejak pagi yang penuh gairah itu, hubungan aku dan Mbak Rina berubah total. Hampir setiap hari kami berhubungan seks — kadang di ruang tamu, kadang di dapur, kadang di kamar aku saat Jamil tidak ada. Kami mencoba berbagai gaya dan posisi baru, berpindah-pindah lokasi di dalam rumah, dan saling berbagi fantasi sesuka hati. Mbak Rina ternyata punya sisi liar yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Sampai saat ini, hubungan terlarang kami masih berlanjut dengan intens. Kalau Jamil ada di rumah, aku dan Mbak Rina pandai sekali mencuri waktu. Sering kami berhubungan seks diam-diam saat Jamil sedang mandi — Mbak Rina membungkuk di wastafel, aku menggenjot dari belakang dengan cepat dan kuat sebelum air shower mati. Kadang di garasi saat Jamil tidur siang, atau bahkan di balkon malam hari saat Jamil lembur. Setiap kesempatan kami manfaatkan, selalu penuh nafsu dan tanpa takut ketahuan.

Mbak Rina paling paham kalau aku suka banget di hisap sampai muncrat di dalam mulutnya, kemudian dia menelannya dan membuka mulutnya dengan manja, menunjukkan cairanku sudah ngga ada, ditelen semua. Kemudian dia mencium bibir dan melumat bibirku dengan bertukeran ludah.

Cerita kami masih jauh dari selesai. Semakin hari, semakin panas, semakin berani.

Bersambung Ke Bagian 3.. =>