Home Top Ad

Antara Aku Istriku Mama Dan Ibu Mertua Ku


Namaku Andi, 25 tahun. Aku sudah menikah dengan Rina selama dua tahun. Rina, 22 tahun, adalah perempuan yang sempurna di mataku. Kulitnya putih mulus, rambut hitam panjang yang selalu wangi shampoo mahal, tubuhnya ramping tapi berlekuk di tempat yang tepat—payudara sedang yang kencang, pinggang kecil, dan bokong yang selalu membuatku susah berkonsentrasi kalau dia pakai rok pendek di rumah. Hubungan kami biasa saja, seperti pasangan suami-istri kebanyakan. Kami saling sayang, seksnya rutin, kadang panas, kadang cuma pelukan biasa. Tidak ada yang aneh.

Kami tinggal bersama ibuku di rumah besar peninggalan almarhum ayah. Rumah ini sudah lama, dua lantai, kamar utama milikku dan Rina di sebelah kamar ibu. Hanya dinding tipis yang memisahkan. Aku kerja di kantor swasta biasa, bagian marketing, pulang kadang malam. Rina kerja sebagai admin di perusahaan kecil dekat pusat kota. Kadang dia lembur, dan kalau sudah kelewat jam sepuluh malam, dia lebih suka nginep di rumah teman kerjanya yang kosannya cuma lima menit dari kantor. “Biar nggak capek pulang malam-malam, Mas,” katanya selalu. Aku ngerti. Kami sudah biasa.

Malam itu, Kamis, aku pulang lebih malam dari biasanya. Jam sudah menunjukkan pukul 11 lewat. Badan pegal semua, kepala pusing karena meeting panjang dan macet di jalan. Aku masuk rumah pelan-pelan, tidak mau membangunkan siapa-siapa. Lampu ruang tamu sudah mati. Aku langsung menuju kamar kami di lantai atas. Pintu kamar sedikit terbuka, lampu dalamnya sudah padam total. Hanya cahaya samar dari lampu taman luar yang masuk lewat jendela tirai tipis.

Aku lihat samar-samar ada tubuh perempuan tidur telentang di atas ranjang kami. Tanpa selimut. Hanya memakai kaos oblong tipis yang kebesaran—kaosku yang biasa dia pakai tidur—dan celana dalam hitam kecil. Aku langsung tahu itu Rina. Atau setidaknya aku yakin sekali. Rina bilang tadi siang dia mungkin lembur lagi, tapi mungkin malam ini dia pulang. Aku tidak sempat cek HP karena baterai habis di perjalanan.

Entah kenapa, malam itu nafsuku tiba-tiba memuncak seperti tidak pernah sebelumnya. Mungkin karena capek, mungkin karena sudah tiga hari kami tidak bercinta karena Rina lembur terus. Aku melepas baju dan celana dalam diam-diam, berdiri di samping ranjang sambil memandangi tubuh itu dalam gelap. Payudaranya naik turun pelan saat bernapas. Paha putihnya sedikit terbuka. Aku merangkak naik ke ranjang, mendekat pelan.

Mulai dari kakinya. Aku ciumi jari-jari kakinya satu per satu, lalu naik ke betis, ke paha dalam. Lidahku menjilat pelan, meninggalkan jejak basah. Tubuh itu bergerak sedikit, tapi tidak bangun. Aku tersenyum dalam hati. Aku tahu Rina suka kalau aku bangunkan dia dengan cara begini. Aku terus naik, menciumi perut datarnya, lalu mengangkat kaosnya sampai ke leher. Payudaranya terpapar. Aku hisap puting kirinya pelan, lalu kanannya, bergantian sambil tanganku meremas lembut. Desahan kecil keluar dari bibirnya, tertahan, tapi aku menganggap itu pertanda dia mulai terangsang dalam tidur.

Aku turun lagi. Membuka kedua pahanya lebar-lebar. Aroma tubuhnya malam itu terasa lebih manis, lebih menggoda. Aku ciumi bibir vaginanya yang sudah agak basah, lalu menjilatnya pelan dari bawah ke atas. Lidahku menyusup masuk, menjilat klitorisnya dengan gerakan melingkar yang dia suka. Lalu aku turun lebih rendah—ke lubang pantatnya yang kecil dan rapat. Aku jilat di sana juga, menekan lidahku masuk sedikit, seperti yang selalu aku lakukan saat nafsu sedang tinggi. Tubuh itu menggelinjang, Tubuhnya bereaksi menggoyang berputar dan naik turun perlahan pinggulnya naik sedikit, seolah meminta lebih.

Aku tidak tahan lagi. Aku naik, memposisikan diri di antara pahanya. Punyaku sudah keras sekali, ujungnya basah oleh precum. Aku gesekkan pelan di bibir vaginanya yang licin, lalu mendorong masuk perlahan. Rasanya… berbeda. Lebih nikmat dari biasanya. Dinding vaginanya panas, lembab, dan seperti menyedot milikku kuat-kuat. Setiap kali aku dorong masuk sampai pangkal, dinding itu berdenyut-denyut, memijat batangku. Aku mulai menggenjot pelan, lalu semakin cepat. Pantatnya ikut bergoyang kanan-kiri, bukan naik-turun seperti biasa Rina lakukan, tapi goyangan samping yang membuat kepala penisku menggesek titik-titik sensitif di dalamnya. Rasanya luar biasa. Aku mendesah keras, tidak bisa ditahan.

“Uhh… enak sekali, Sayang…” bisikku di telinganya.

Aku genjot semakin dalam, semakin cepat. Suara bed yang berderit dan suara basah penisku keluar-masuk vagina semakin keras. Nafsu sudah menguasai aku sepenuhnya. Aku pegang pinggulnya kuat-kuat, menariknya ke arahku setiap kali aku dorong. Kami sama-sama menggenjot seirama. Desahanku semakin tidak bisa dikontrol, meski aku berusaha menahan agar tidak kedengaran ibu di kamar sebelah.

Tapi saat kami sama-sama menggenjot erotis itu, aku mendengar suara desahan tertahan yang sangat familiar. Bukan suara Rina. Suara itu… suara ibu.

"Shhh... Aaahhh.."

Aku sempat memperlambat gerakan, jantungku berdegup kencang. Tidak mungkin. Aku pasti salah dengar. Tapi desahan itu terulang lagi—pelan, tertahan, tapi jelas suara perempuan yang sudah aku kenal seumur hidupku. Suara ibuku.

Dengan tangan gemetar karena ragu, aku meraih tombol lampu di samping ranjang. Aku tekan.

Cahaya kuning lembut langsung menyala.

Dan dunia seolah berhenti.

Itu bukan Rina.

Di bawah tubuhku, telentang dengan wajah memerah, mata terbelalak kaget, dan bibir sedikit terbuka adalah… ibuku.

Mama. Umur 48 tahun, tapi masih terlihat cantik dan awet muda. Tubuhnya lebih montok dari Rina, payudaranya lebih besar dan agak kendur karena usia, pinggulnya lebih lebar, dan vaginanya yang sekarang masih menjepit penisku terasa lebih dalam, lebih panas, lebih berpengalaman. Kaos oblong yang kupikir kaos Rina ternyata kaos lama milikku yang Mama pakai untuk tidur malam ini.

Kami berdua terdiam. Matanya lebar, penuh kaget dan malu. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. penisku masih utuh di dalam vaginanya, berdenyut-denyut karena masih keras dan bergairah. Aku bisa rasakan dinding vaginanya berdenyut dan masih menyedot pelan, seolah tidak mau melepaskan.

Beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam.

Lalu… entah kenapa, kami tidak berhenti.

Tidak ada yang menarik diri. Tidak ada yang berteriak atau mendorong. Malah sebaliknya.

Mama menggigit bibir bawahnya. Matanya yang tadinya kaget mulai berubah. Ada sesuatu yang lain di sana. Nafsu. Sama seperti yang aku rasakan. Pinggulnya bergerak pelan, seolah mengajakku melanjutkan.

Aku menatapnya dalam-dalam. Jantungku berdegup seperti mau meledak. “Ma…” bisikku, suaraku serak.

Mama tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mengangguk kecil, hampir tak terlihat. Lalu tangannya naik, merangkul leherku, menarikku mendekat.

Malam itu, nafsu mengalahkan segalanya.

Aku mulai menggenjot lagi. Kali ini lebih pelan, lebih dalam, lebih sadar. Setiap dorongan aku rasakan betul bagaimana vaginanya memeluk penisku, bagaimana klitorisnya bergesekan dengan tulang kemalanku, bagaimana bokongnya yang montok itu bergoyang erotis di bawahku. Mama mendesah di telingaku, "Hmmm... Sshhh... AAhhh..." suara yang selama ini aku dengar hanya saat dia memanggil namaku untuk makan malam—sekarang berubah menjadi desahan mesum yang membuat darahku mendidih.

“Kamu… ahh… Andi…” desahnya pelan, suaranya gemetar.

Aku mencium lehernya, menggigit pelan, sambil terus menggenjot. Tangan Mama meremas punggungku, kuku-kukunya menancap. Kami tidak bicara banyak. Hanya suara napas berat, suara basah percintaan, dan desahan tertahan yang kami berdua usahakan agar tidak kedengaran ke luar kamar.

Malam itu baru saja dimulai.

Dan aku tahu, ini hanya permulaan dari sesuatu yang tidak akan pernah bisa kami hentikan lagi.

“Owhh… enak banget, Mah…” desahku tanpa sadar, suaraku serak penuh kenikmatan.

penisku masih tertanam dalam-dalam di dalam vagina Mama. Rasanya benar-benar berbeda dari Rina. Lebih hangat, lebih basah, dan dindingnya seperti punya nyawa sendiri—setiap denyutannya memijat batang penisku dengan sempurna. Mama menatapku dengan mata setengah terpejam, wajahnya memerah hebat, bibirnya basah dan sedikit terbuka.

“Terus, Ndi… Ahh.. Mama pengen keluar…” bisiknya gemetar, pinggulnya bergerak pelan menggoda, seolah meminta aku melanjutkan dengan lebih kuat.

Aku tidak perlu diperintah dua kali. Aku angkat kedua kaki Mama ke bahuku, membuat posisinya lebih terbuka lebar. Lalu aku mulai menggenjot lagi—lebih dalam, lebih cepat. Setiap dorongan aku masukkan sampai pangkal, kepala penisku menghantam bagian paling dalam vagina Mama. Suara “plok-plok-plok” basah terdengar jelas di kamar yang sunyi.

Mama mendesah semakin keras. “Ahh… Pelan.. ahh… teruss.., Ndi… ahh! Dalam banget…”

Tapi aku tidak bisa pelan. Nafsu sudah menguasai sepenuhnya. Aku genjot terus, tanganku meremas payudaranya yang besar dan lembut, jari-jemariku mencubit putingnya yang sudah mengeras. Mama melengkungkan punggungnya, kepalanya mendongak ke belakang. Vaginanya semakin licin, cairannya mengalir deras membasahi selangkangan kami berdua.

Aku ubah posisi. Aku tarik penisku keluar, balik tubuh Mama hingga posisi doggy style. Bokongnya yang montok dan lebar terpampang sempurna di depanku. Aku pegang pinggulnya kuat-kuat, lalu masukkan lagi penisku dari belakang dengan satu dorongan kuat.

“Ahhhhh!” Mama menjerit tertahan, tapi langsung berubah menjadi desahan panjang. “Enak… enak sekali, Nak… genjot Mama lebih keras…”

Aku menggenjot dengan ganas. Tangan kananku meraih rambutnya yang terurai, menarik pelan ke belakang sementara tangan kiriku menampar bokongnya pelan. Setiap hantaman membuat bokong Mama bergoyang indah, gelombang daging putihnya terlihat jelas. Aku rasakan vagina Mama semakin ketat, berdenyut-denyut hebat.

“Punya Mama nikmat banget… aahh!” erangku. Aku hampir mencapai puncak, tapi aku tahan. Aku ingin Mama keluar dulu.

Aku percepat ritme. penisku keluar-masuk dengan cepat, suara basah semakin keras. Mama mulai gemetar hebat. Kedua tangannya mencengkeram sprei kuat-kuat.

“Keluar… Mama mau keluar… ahh… ahhh… Ndi!!! Iya… iya… di situ… ahhhhh!!”

Tubuh Mama mengejang keras. Vaginanya menyedot penisku seperti pompa, cairan hangatnya menyembur keluar membasahi paha kami. Itu orgasme pertamanya. Tapi aku tidak berhenti. Aku terus menggenjot di tengah orgasmenya, membuat Mama menjerit tanpa bisa ditahan lagi.

“Aaahhh! Terus… jangan berhenti… Mama keluar lagi… ahh! Ahh! Ahhhhh!!”

Orgasme kedua datang hanya beberapa menit kemudian. Kali ini lebih kuat. Mama menjerit keras, suaranya menggema di kamar. Dia tidak peduli lagi apakah kedengaran ke kamar sebelah atau bahkan ke tetangga. Nafsu sudah mengalahkan segalanya. Tubuhnya kejang-kejang, cairannya muncrat lagi, kali ini lebih banyak, membasahi seprai.

Aku balik posisi lagi. Kali ini aku duduk di tepi ranjang, Mama naik ke pangkuanku menghadap aku (cowgirl). Payudaranya yang besar bergoyang-goyang di depan wajahku setiap kali dia naik-turun. Aku hisap putingnya bergantian sambil tanganku memegang bokongnya, membantu gerakannya.

Mama menunggangi penisku dengan liar. “Enak… penis kamu besar… memenuhi Mama… ahh… ahh…”

Kami berganti lagi ke missionary, lalu side-by-side, lalu Mama berbaring miring sementara aku menggenjot dari belakang sambil meremas payudaranya. Malam itu kami lakukan hampir semua posisi yang aku tahu. Setiap kali Mama mencapai orgasme, dia menjerit dan mendesah tanpa kendali. Multi orgasme datang bertubi-tubi—aku sudah tidak hitung lagi berapa kali tubuhnya mengejang hebat di bawah atau di atas tubuhku.

Akhirnya, setelah hampir dua jam, nafsu kami mencapai puncak bersama. Aku mencengkeram pinggul Mama kuat-kuat, menggenjot sekuat tenaga dalam posisi doggy sekali lagi.

“Mama… aku mau keluar…” erangku.

“Keluar di dalam ndi… Terus… ahhh!!” jerit Mama.

Kami klimaks bersamaan. Aku menyemburkan sperma panasku dalam-dalam ke rahim Mama, sementara vagina Mama berdenyut hebat menyedot setiap tetesnya. Mama menjerit panjang, tubuhnya ambruk ke depan, terkulai lemas di atas ranjang. Aku ikut ambruk di atas punggungnya, napas kami berdua tersengal-sengal. Keringat bercampur cairan cinta membasahi tubuh kami.

Kami berdua terkulai lemas, saling peluk tanpa kata. Malam itu kami benar-benar kelelahan, tapi puas luar biasa.

Pagi harinya, aku terbangun sekitar pukul 06.30. Mama sudah tidak ada di ranjang. Aku mencium aroma masakan dari bawah—telur goreng dan kopi. Aku turun ke dapur dengan hanya memakai boxer. Mama sudah rapi memakai daster rumah motif bunga yang tipis, rambutnya diikat asal.

Kami sempat saling pandang canggung beberapa detik. Wajah Mama memerah. Aku juga merasa aneh—malam tadi kami seperti orang gila.

“Pagi, Ma…” sapaku pelan.

“Pagi, Ndi…” jawabnya, suaranya lembut tapi ada getar.

Aku ambil HP dan hubungi Rina. Dia angkat di dering kedua.

“Halo, Sayang. Aku langsung kerja hari ini ya, lembur semalam jadi tidur di kosan. Pulang nanti sore aja. Nggak apa-apa kan?”

“Iya, nggak apa-apa,” jawabku, suaraku biasa saja. “Hati-hati di jalan.”

Setelah telepon ditutup, suasana dapur kembali hening. Aku dan Mama berdiri berhadapan di depan meja. Canggung sekali. Tapi entah siapa yang memulai—mungkin aku yang mendekat lebih dulu, atau Mama yang tiba-tiba memegang tanganku—nafsu kembali muncul begitu saja.

Aku tarik Mama ke pelukanku. Kami berciuman liar, lidah kami saling menari. Tangan aku langsung merayap ke bawah daster, meremas bokongnya yang telanjang di balik celana dalam tipis. Mama mendesah di mulutku.

Tanpa melepas dasternya, aku angkat sedikit kainnya, tarik celana dalam Mama ke samping. penisku sudah keras lagi. Aku angkat satu kaki Mama ke pinggir meja dapur, lalu masukkan penisku dari depan sambil berdiri. Mama memeluk leherku erat, mendesah pelan setiap kali aku dorong.

“Kita gila ya, Ndi…” bisiknya di telingaku, tapi pinggulnya justru ikut bergerak menyambut.

Kami bercinta cepat dan panas di dapur. Suara desahan kecil dan suara basah percintaan bercampur dengan aroma masakan. Mama keluar dua kali sebelum aku menyemburkan lagi di dalamnya.

Sebelum berangkat kerja, nafsu kami belum padam. Di ruang tamu, Mama nungging di sofa menghadap jendela besar yang menghadap jalan depan rumah. Aku hanya menurunkan resleting celana kantor, sementara Mama hanya menaikan dasternya ke pinggang dan menyingkap celana dalamnya ke samping.

Aku masukkan penisku dari belakang sambil berdiri. Kami bergoyang pelan tapi dalam, mata kami sesekali melirik ke luar jendela—melihat orang lewat, mobil lewat, tetangga pagi-pagi sudah menyapu halaman. Risiko itu justru membuat kami semakin bergairah.

“Ahh… pelan, Ndi… orang bisa lihat…” desah Mama, tapi bokongnya malah didorong ke belakang, meminta lebih dalam.

Aku genjot lebih cepat. Tangan aku meremas payudaranya dari belakang melalui daster. Beberapa menit kemudian, kami hampir bersamaan mencapai klimaks lagi. Aku menyembur di dalamnya sambil menekan penisku dalam-dalam, Mama menahan jeritannya dengan menggigit lengan sofa.

Aku tarik penisku, cepat rapihkan celana, cium kening Mama, lalu berangkat kerja dengan kaki masih agak lemas.

Sepanjang perjalanan ke kantor, aku hanya bisa memikirkan satu hal:

Ini baru hari kedua… dan aku sudah tidak bisa berhenti.

Sejak malam pertama itu, segalanya berubah total di antara aku dan Mama.

Kami jadi sering mencuri-curi waktu setiap kali Rina lengah. Kalau Rina sedang mandi atau sibuk di kamar, aku langsung mendekat ke Mama di dapur. Kami berciuman liar dalam hitungan detik, lidah saling menari cepat, tanganku meremas payudaranya yang besar melalui daster tipis, sementara tangan Mama meraba penisku yang sudah keras di dalam celana. Kadang hanya pelukan erat dari belakang sambil aku menggesekkan penisku ke bokongnya, bisik-bisik mesum di telinganya sebelum Rina keluar dari kamar mandi.

Beberapa kali nafsu kami benar-benar tak tertahankan. Saat Rina mandi pagi, kami hanya punya waktu 10-15 menit. Begitu pintu kamar mandi tertutup dan suara shower menyala, aku langsung tarik Mama ke kamarnya. Celana aku turunkan cepat, Mama angkat daster sampai pinggang, celana dalam disingkap ke samping. Aku genjot vagina Mama dari belakang sambil berdiri, cepat dan ganas. Hanya suara “plok-plok-plok” pelan dan desahan tertahan yang kami usahakan supaya tidak kedengaran. Mama biasanya keluar dua kali dalam waktu singkat, tubuhnya gemetar hebat sambil menggigit lengannya sendiri. Aku menyembur di dalamnya, lalu kami buru-buru rapihkan baju sebelum Rina selesai mandi. Wajah Mama masih merah padam, napasnya tersengal, tapi kami saling pandang dengan senyum penuh dosa.

Anehnya, hubungan keluarga kami di luar justru terlihat semakin harmonis. Rina sering bilang betapa senangnya melihat aku dan Mama semakin dekat. Mama lebih rajin masak makanan kesukaanku, aku lebih sering bantu pekerjaan rumah, dan suasana rumah terasa hangat. Rina tidak curiga sedikit pun. Dia tidak tahu bahwa di balik senyum dan obrolan biasa itu, aku dan Mama menyimpan api yang semakin besar.

Suatu malam, Rina kembali tidak pulang. Pesannya singkat: “Lembur lagi, Mas. Nginep di kosan temen. Pulang besok sore ya.”

Begitu pesan terbaca, aku dan Mama langsung saling tatap. Nafsu menyala instan. Malam itu kami memuaskan segala fantasi tanpa jeda sama sekali.

Setelah beberapa ronde biasa di kamar, aku bisik di telinga Mama, “Ma… malam ini aku mau coba yang di belakang. Lubang pantat Mama.”

Mama sempat ragu, pipinya merah. “Belum pernah, Ndi… takut sakit.”

“Aku pelan-pelan. Banyak pelumas. Kalau sakit bilang ya,” kataku sambil mencium lehernya.

Akhirnya Mama mengangguk. Aku ambil lotion dari kamar mandi, oleskan banyak-banyak di jari dan penisku. Mama nungging di tepi ranjang, bokong montoknya terangkat tinggi. Aku olesi lubang pantatnya yang kecil dan rapat dengan lotion, lalu masukkan jari tengahku perlahan. Mama mendesah aneh, tubuhnya tegang.

“Pelan… ahh… iihh..aneh sekali…”

Aku terus merangsang dengan jari, memutar-mutar pelan sambil tangan kiriku mengusap klitorisnya agar tetap rileks dan basah. Setelah lubangnya agak longgar, aku posisikan ujung penisku di depan lubang pantatnya dan dorong perlahan.

“Ahh… sesak… Ndi…” erang Mama, tangannya mencengkeram sprei.

Bersambung.. =>>